Saturday, August 03, 2019

Salah Siapa?



Jadi begini, jika aku duduk di sudut menghadap hamparan gunung yang menyembul pelan di balik awan sambil menyisip secangkir kopi, lalu aku mengingatmu, salah siapa?

Jika aku sedang membaca cerita-cerita pendek Franz Kafka yang kadang membingungkan namun indah itu, lalu yang muncul di benakku hanyalah kamu, salah siapa?

Jika angin sedang menghampiri bulu kudukku dan meniupkan semilirnya lalu yang terdengar olehku adalah namamu, salah siapa?

Ada yang salah denganku, sudah terlalu larut untukku terjaga. Namun aku tak bisa menutup kedua mataku. Tidak pula aku bisa mengerjakan banyak tugas tertinggal di belakangku. Segalanya hanya berpusat pada kamu, kamu, kamu, kamu.

Mengapa aku begini?
Bukankah sudah lama aku ingin meninggalkan jejakmu, dan membiarkan setengah hatiku dibawa pergi olehmu entah ke mana?
Mengapa aku belum rela?

Apakah ini karena kamu yang justru belum rela?
Ah, entahlah.
Aku hanya ingin hidup tenang dan damai
Tanpa ada bayanganmu mengikutiku setiap saat.

Aku bingung,
Ini semua, salah siapa?


Wednesday, May 08, 2019

Rindu Masa Berkisah


Burung gereja hinggap di atas tanda salib di atas gereja
Kala itu senja, semburat surya merekah menjadi jingga yang mewarnai langit biru.
Awan putih masih nampak seperti kapas,
yang ingin kuraih, kusobek belah dua, dan kukunyah seperti gulali.

Angin masih menggerakkan tangkai dan dedaunan hijau yang letaknya persis di sebelah gereja.
Hawanya hangat, tapi masih sejuk. Hal yang jarang kita dapatkan di ibukota.
Waktu yang tepat untuk menggoreskan tinta penaku pada lembaran kertas yang kurakit sendiri.

Ah, aku rindu masa-masa seperti ini.
Masa dikala tangank begitu mudahnya menuliskan apa saja yang ada di benakku.
Aku rindu masa-masa dimana aku tak letih menceritakan bagaimana hari-hariku pada sebuah jurnal harian.
Berharap semoga apa yang kutuliskan menjadi sesuatu yang berharga,
perjalanan hidup yang kulalui bisa jadi sebuah makna untuk orang-orang lain di sekitarku.

Ya, aku rindu.
Semoga suatu saat, aku kembali rajin berkisah.




Jakarta, 9 Mei 2019.

Thursday, February 14, 2019

Ode Kasih Sayang?


Source:Pinterest



Ini hari kasih sayang,
Meski tak ada yang kusayang,
Hatiku tetap saja riang
Meski badanku malah meriang

Di ujung meja kerjaku, aku terpaku
Mataku memandang kertas kaku di depanku
Ingin sekali kutuliskan surat kepadamu
Untuk sekadar bertanya, "Apa kabarmu?"

Kawan, aku sedang jatuh cinta
Tapi sesungguhnya, aku tak tahu apa tepatnya
Aku ragu, apa aku masih bisa?
Membuka hati untuk (siapa tahu) dikoyak seperti dulu kala

Kawan, tolong aku yang meragu
Entah aku sudah tak lagi seorang perempuan lugu
atau aku hanya ingin mengasihi dengan sepenuh
Tolong, bantu aku...







Jakarta,
Hari Kasih Sayang 2019.

Tuesday, November 06, 2018

The Devil and Two of Swords




Dua insan terbelenggu

dengan mulut terkatup

Di atasnya, Si Setan siap menyambit

Ada puan mata tertutup

ayun dua pedang di bawah bulan sabit

Terpenjara bayang kemewahan

Tak akan beri kepuasan jiwa

Kita semua bebas tentukan pilihan

Namun ingat, bahagia harus selalu dibawa




-Jakarta, Juli 2018

Friday, June 01, 2018

Aku Tak Pernah




Aku tak pernah bosan melihat rupamu, tingkah lakumu, gerak-gerikmu
Aku tahu kau masih menyimpan benci yang dalam padaku
Namun aku bisa lihat bahwa dalam lubuk hatimu, kau sudah memaafkanku.
Bukankah begitu?

Aku tak pernah bisa membencimu begitu rupa, meski kau menyakitiku hingga ke lubuk
Karena aku tahu bahwa kita sama.
Sama-sama benci, sama-sama cinta
Kita hanya dua insan yang tak mengerti apa yang sesungguhnya harus dilakukan.
Bukankah begitu?

Aku tak pernah lupa masa-masa manis yang pernah kita sesap bersama
Senyummu, tawamu, hatimu yang baik...
Ah, hatimu. Tulus, sederhana, tidak pernah berlebihan.
Aku, jatuh hati.
Meski sekarang semua terasa mengawang jauh

Namun,
Aku tak pernah menyesal mengenalmu.




-Jakarta, 2 Juni 2018.

Thursday, January 25, 2018

Banyu, Pulpen, dan Kenangan


Ada banyak hal yang membuat Banyu begitu gelisah belakangan ini, salah satunya adalah tulisan tangannya yang kini tidak seindah dulu. Padahal ia sedang dapat banyak ide untuk novelnya. Ya, Banyu terbiasa menuliskan idenya di jurnal hariannya dahulu sebelum ia ketik di komputer. Agar lebih klasik dan otentik, sehingga nanti jika ada orang yang ingin lihat manuskrip hasil karyanya, Banyu bisa memperlihatkan jurnal tersebut. Tapi pulpen yang ia gunakan ini bikin Banyu kesal. Saking kesalnya, ia malah menulis tentang keluh kesahnya.

"Aku tidak mengerti dengan diriku, mengapa hal-hal kecil saja bisa bikin aku marah dan kesal? Bahkan bentuk pulpen yang terlalu ramping sehingga membuat aku tak nyaman menulis dan membut tulisanku jelek pun, bisa bikin aku marah. Ah, ganti pulpen saja lah. Lho, kok tetap tidak enak?
 Oh, merk-nya sama. Bentuknya pun sama. Hanya berbeda warna tinta saja. Kesal.
Duh, tulisanku masih jelek, kan? Ayolah pulpen, aku kan harus menulis. Aku harus menulis kenangan-kenanganku dengan Narendra, agar bisa kususun menjadi sebuah novel, novel yang indah. Ya, kenangan yang indah harus dimanifestasikan dalam sebuah karya yang indah pula bukan?
Ayolah Banyu, kamu harus lawan kegelisahanmu itu! 
Duh Tuhan, aku ingin pulpen yang lebih enak bisa tidak?"

Banyu berhenti menulis, lalu menghela napas. Ia tengadahkan kepalanya ke atas, langit biru terbentang luas di sana, berpadu dengan awan-awan putih yang indah bagaikan kapas.
Ah, dulu ia sering pergi ke rooftop rumahnya ini dengan Narendra di sore hari. Menengadahkan kepala ke atas, bersama-sama merasakan hembusan angin yang menerpa pipi mereka, dan menikmati birunya langit yang indah. Betapa menyenangkannya memori itu. Banyu tak dapat menepis rasa rindunya.

Aku tenggelam dalam genangan kenangan, Narendra. Tolong aku.