Thursday, January 25, 2018

Banyu, Pulpen, dan Kenangan


Ada banyak hal yang membuat Banyu begitu gelisah belakangan ini, salah satunya adalah tulisan tangannya yang kini tidak seindah dulu. Padahal ia sedang dapat banyak ide untuk novelnya. Ya, Banyu terbiasa menuliskan idenya di jurnal hariannya dahulu sebelum ia ketik di komputer. Agar lebih klasik dan otentik, sehingga nanti jika ada orang yang ingin lihat manuskrip hasil karyanya, Banyu bisa memperlihatkan jurnal tersebut. Tapi pulpen yang ia gunakan ini bikin Banyu kesal. Saking kesalnya, ia malah menulis tentang keluh kesahnya.

"Aku tidak mengerti dengan diriku, mengapa hal-hal kecil saja bisa bikin aku marah dan kesal? Bahkan bentuk pulpen yang terlalu ramping sehingga membuat aku tak nyaman menulis dan membut tulisanku jelek pun, bisa bikin aku marah. Ah, ganti pulpen saja lah. Lho, kok tetap tidak enak?
 Oh, merk-nya sama. Bentuknya pun sama. Hanya berbeda warna tinta saja. Kesal.
Duh, tulisanku masih jelek, kan? Ayolah pulpen, aku kan harus menulis. Aku harus menulis kenangan-kenanganku dengan Narendra, agar bisa kususun menjadi sebuah novel, novel yang indah. Ya, kenangan yang indah harus dimanifestasikan dalam sebuah karya yang indah pula bukan?
Ayolah Banyu, kamu harus lawan kegelisahanmu itu! 
Duh Tuhan, aku ingin pulpen yang lebih enak bisa tidak?"

Banyu berhenti menulis, lalu menghela napas. Ia tengadahkan kepalanya ke atas, langit biru terbentang luas di sana, berpadu dengan awan-awan putih yang indah bagaikan kapas.
Ah, dulu ia sering pergi ke rooftop rumahnya ini dengan Narendra di sore hari. Menengadahkan kepala ke atas, bersama-sama merasakan hembusan angin yang menerpa pipi mereka, dan menikmati birunya langit yang indah. Betapa menyenangkannya memori itu. Banyu tak dapat menepis rasa rindunya.

Aku tenggelam dalam genangan kenangan, Narendra. Tolong aku.

Friday, September 01, 2017

Au Revoir!



Ada aku, ada kamu.
Bertukar pikiran lewat untaian lagu yang teralun indah melewati kesunyian kita.
Aku diam, kamu diam.
Aku tak bisa berkata, karena dengan saling tukar kata, sakit itu muncul.
Aku hanya menjaga raga kecilku ini dari sayatan yang menggores hati.
Pedih. Aku tak mau lagi.

Maka kututup pintu hati ini rapat-rapat dan tak akan kubiarkan terbuka walau kecil-kecil.
Mungkin sudah saatnya kukatakan selamat berpisah.
Mungkin sudah saatnya aku kembali mencoba berdiri pelan-pelan,
tanpa ada kamu yang membangunkanku.





Jakarta, 020917

Friday, August 18, 2017

Tidak Ada Kamu Dimana-mana



Masih kuingat bau rokok yang tertinggal di tubuhmu saat kau mengecupku
Djarum? Sampoerna? Dji Sam Soe? Marlboro? Aku tak tahu
Ah, tapi tidak mungkin Marlboro, terlalu seperti sosialita katamu
Kudekap tubuhmu sambil mendengar detak jantungmu

Lalu di sini, di sudut warung kopi sambil menyesap kopi hitam
aku mencium bau itu
rokokmu
Aku menoleh, berharap kudapati dirimu

Namun tidak.

Tidak ada kamu di situ
Tidak di meja seberang
Tidak di meja sebelah
Tidak ada kamu dimana-mana

Aku berharap bisa menemukanmu meski sekelebat
Tapi tidak ada kamu dimana-mana
Karena ragamu sudah melebur
bersama cacing-cacing tanah di bawah sana

Hari itu aku tidak bisa menemukanmu dimana-mana
Kamu hanya di bawah, terhalang, dan aku tak bisa melihatmu
Kutunggu semua prosesnya selesai, lalu kuusap pelan papan bertuliskan namamu,
"Minggu depan kita bertemu lagi, ya..."

 Masih kuingat bau rokok yang tertinggal di tubuhmu saat kau mengecupku
Tak peduli rokok apa yang kau hisap, aku hanya ingin kau mengecupku lagi
Air mataku luruh bersama gundukan tanah yang digali oleh para petugas itu
Air mataku luruh bersama gundukan tanah yang menutupi kotak tempatmu berbaring


Lalu di sini, di sudut warung kopi sambil menyesap kopi hitam
aku mencium bau itu
rokokmu
Aku menoleh, berharap kudapati dirimu

Namun tidak

Tidak ada kamu dimana-mana.





Jakarta, 180817


Sunday, August 06, 2017

Tempat Singgah



Orang datang lalu lalang, sibuk dengan kisah masing-masing
Aku duduk mendengarkan, karena setiap kisah perlu didengar

Orang datang lalu lalang, sibuk dengan kisah masing-masing
Aku duduk mendengarkan, karena setiap insan adalah permata

Orang datang lalu lalang, sibuk dengan kisah masing-masing
Aku duduk mendengarkan, karena di baliknya pasti tersisip makna

Orang datang lalu lalang, sibuk dengan kisah masing-masing
Aku duduk mendengarkan, karena telingaku butuh cerita selain kesialan hidupku

Orang datang lalu lalang, sibuk dengan kisah masing-masing
Aku duduk mendengarkan, karena semua butuh satu tempat

Untuk singgah,
Untuk datang,
Untuk didengarkan.







Jakarta, 070817




Tuesday, June 13, 2017

Sesungguhnya Introvert


Mungkin kau merasa aku orang yang paling sering tertawa
Mungkin kau merasa aku orang yang paling mudah beradaptasi
Mungkin kau merasa aku orang yang paling ringan masalahnya
Mungkin kau merasa aku orang yang paling ekstrovert

Aku memang sering bergurau
Aku memang tak sulit bergaul dengan orang baru
Aku memang terlihat tak memiliki masalah berarti
Aku memang terlihat sangat menikmati hidup

Tapi...

Tahukah kau jika aku kerap rikuh dalam keramaian?
Tahukah kau jika aku tak nyaman jika berlama-lama dengan banyak orang?
Tahukah kau jika aku merasa lelah jika harus berbincang terlalu banyak?
Tahukah kau jika aku lebih memilih pergi sendirian dibanding beramai-ramai?

Aku harap kamu mengerti...

Jika aku kerap menolak ajakan pergi berbondong-bondong
Jika aku kerap tak bisa dihubungi lewat telepon selular
Jika aku (terlihat sangat) sibuk
Jika aku tidak bisa ditemukan di mana-mana

Karena biasanya aku ada di rumah...

Sendirian.




-N-

Monday, May 01, 2017

Menatap Malam


Menatap malam, aku terhenyak
Merintih, mengaduh, mengeluh
Entah berapa banyak kata "Gusti" kulafalkan
Aku cuma ingin mengadu
Betapa aku belum dapat jawab

Sampai kapan?



-Jakarta, 22/01/17-
Kucoretkan dalam jurnal harianku
Kutuliskan saat termangu di ruang tamu.

Wednesday, March 01, 2017

Hujan, dan Banyu, dan Narendra.



Narendra menengadahkan kepala dan mengangkat tangannya ke atas.
"Rintik hujan, Banyu. Pergi?"

Banyu menggeleng. "Tunggu sebentar, Narendra,"

Banyu menggerakkan kakinya satu langkah ke depan, lalu mengangkat dua tangannya tinggi-tinggi.
"Kamu tahu aku pluviophile, kan? Pecinta hujan! Masa kamu tega mengajak aku meninggalkan hal yang aku cintai?" ujarnya sambil tersenyum menggemaskan.


Seperti kamu tega memintaku meninggalkanmu, Narendra...


------------------

Narendra menengadahkan kepala dan mengangkan tangannya ke atas.
Sudah mau hujan, jangan sampai Banyu demam atau flu.
"Rintik hujan, Banyu, Pergi?"

Banyu menggeleng. "Tunggu sebentar, Narendra,"

Banyu menggerakkan kakinya satu langkah ke depan, lalu mengangkat dua tangannya tinggi-tinggi.
"Kamu tahu aku pluviophile, kan? Pecinta hujan! Masa kamu tega mengajak aku meninggalkan hal yang aku cintai?" ujarnya sambil tersenyum menggemaskan.


Ah, lucu sekali ekspresi wajahnya. Ingin rasanya aku sekarang menarikmu dan menyuruhmu untuk meninggalkan hal yang kau cintai itu. 
AGAR KAMU TIDAK SAKIT, BANYU. Ingin rasanya kuteriakkan kata-kata itu. 
Tapi, aku tak bisa.
Sama seperti aku tak bisa mencegahmu pergi...