Wednesday, March 01, 2017

Hujan, dan Banyu, dan Narendra.



Narendra menengadahkan kepala dan mengangkat tangannya ke atas.
"Rintik hujan, Banyu. Pergi?"

Banyu menggeleng. "Tunggu sebentar, Narendra,"

Banyu menggerakkan kakinya satu langkah ke depan, lalu mengangkat dua tangannya tinggi-tinggi.
"Kamu tahu aku pluviophile, kan? Pecinta hujan! Masa kamu tega mengajak aku meninggalkan hal yang aku cintai?" ujarnya sambil tersenyum menggemaskan.


Seperti kamu tega memintaku meninggalkanmu, Narendra...


------------------

Narendra menengadahkan kepala dan mengangkan tangannya ke atas.
Sudah mau hujan, jangan sampai Banyu demam atau flu.
"Rintik hujan, Banyu, Pergi?"

Banyu menggeleng. "Tunggu sebentar, Narendra,"

Banyu menggerakkan kakinya satu langkah ke depan, lalu mengangkat dua tangannya tinggi-tinggi.
"Kamu tahu aku pluviophile, kan? Pecinta hujan! Masa kamu tega mengajak aku meninggalkan hal yang aku cintai?" ujarnya sambil tersenyum menggemaskan.


Ah, lucu sekali ekspresi wajahnya. Ingin rasanya aku sekarang menarikmu dan menyuruhmu untuk meninggalkan hal yang kau cintai itu. 
AGAR KAMU TIDAK SAKIT, BANYU. Ingin rasanya kuteriakkan kata-kata itu. 
Tapi, aku tak bisa.
Sama seperti aku tak bisa mencegahmu pergi...






Thursday, December 08, 2016

Hari Buruk (?)



Biasanya aku suka hujan
Kali ini tidak
Membuatku sulit pulang
Padahal aku merindu kopi di kafe dekat rumah

Hujan reda lama sekali
Namun akhirnya aku bisa pulang
Mampir ke kafe
Kopi yang biasa kupesan tak senikmat biasanya

Ah, apakah ini hari buruk?
Masakan hujan dan kopi,
Dua hal yang paling kusuka,
Bisa jadi penyebab hari burukku?

Atau, memang begitu?
Apa yang kau suka,
Bisa saja menjadi hal pertama
yang menjadi alasan hidupmu jadi buruk?



Monday, October 03, 2016

DRAMA



Orang-orang lalu-lalang
kisruh dengan cerita masing-masing

Aku?
Cukup mendengar

Hal kecil jadi besar
Hal besar dianggap kecil

Bingung?
Terkadang

Tapi aku hanya punya telinga
Tapi aku hanya punya lidah

untuk mendengarkan
untuk memberi nasihat

Drama
Drama
Drama
Drama

Dapatkah manusia hidup tanpa drama?

Ah, mungkin tanpa drama
hidup mereka tak lagi asyik

Jadi sudah
Biarkan saja

Drama
Drama
Drama
Drama

Toh aku punya telinga
Toh aku punya lidah

untuk mendengarkan
untuk memberi nasihat

Friday, July 22, 2016

Tidak Ingin (Bisa) Melepaskan (Kisah Narendra-Banyu)





"Boleh ke sana, Banyu?"
Ujar Narendra menunjuk ke sebuah sudut.
Banyu mengangguk lalu menggerakkan kaki ke arah yang ditunjuk Narendra.
"Aku tahu kamu mau bicara apa," kata Banyu seraya menoleh.

Maafkan aku, aku bukan ingin membuatmu sendirian, bukan ingin menyakitimu...

"Kamu pasti mau marah kan karena aku memilih kuliah di Jogja?"
tanya Banyu tenang, sambil menahan air mata yang sesungguhnya dapat membuncah kapanpun.


"Tidak. Mengapa harus marah?" jawab Narendra.
"Aku hanya ingin tahu mengapa kamu lebih memilih kuliah di sana dibanding di sini. Toh, Jakarta juga punya banyak universitas bagus, Banyu..."

Banyu hanya menggeleng.
"Tidak bisa, Jakarta sudah terlalu padat. Aku penat. Aku butuh inspirasi untuk menulis,"

Aku butuh jauh darimu, Narendra...


**

"Boleh ke sana, Banyu?
Ujar Narendra menunjuk ke sebuah sudut.
Banyu mengangguk lalu menggerakkan kaki ke arah yang ditunjuk Narendra.
"Aku tahu kamu mau bicara apa," kata Banyu seraya menoleh.

Oh ya, benarkah? Benarkah kamu sungguh tahu apa yang mau aku bicarakan?


"Kamu pasti mau marah kan karena aku memilih kuliah di Jogja?" tanya Banyu tenang.
Sesungguhnya Narendra ingin mengiyakan pernyataan tersebut. Bukan marah, tapi sesuatu yang melebihi marah. Apakah ada istilahnya?


"Tidak. Mengapa harus marah?" jawab Narendra.
"Aku hanya ingin tahu mengapa kamu lebih memilih kuliah di sana dibanding di sini. Toh, Jakarta juga punya banyak universitas bagus, Banyu...

Lantas di Jogja, siapa yang bisa menjagamu?
Siapa yang akan menemaniku jika aku kesepian di sini?


Banyu hanya menggeleng.
"Tidak bisa, Jakarta sudah terlalu padat. Aku penat. Aku butuh inspirasi untuk menulis,"

Ah iya, menjadi penulis terkenal. Impianmu. Aku bisa apa? Siapa aku menahan mimpi yang sudah kau tanam sejak kecil?


**
"Bodoh. Banyu bodoh. Mengapa tak katakan saja alasan yang sejujurnya?"

"Bodoh. Narendra bodoh. Mengapa tak segera kau katakan isi hatimu?"

Ujar Narendra dan Banyu dalam relung masing-masing.

Thursday, June 23, 2016

KOPI





Di pojok
mengaduh
Di ujung
mengeluh

Menyesap
menyerap
Menghirup
merasa

ah
sudahlah
entah
rasanya hambar

Mungkin butuh pemanis buatan...




Suatu malam di sebuah kedai kopi,
di Selatan Jakarta
-Natasha-

Thursday, May 12, 2016

Menjadi Apa?

Telah lama kucari-cari langkah hidup yang lebih pasti,
Hidup penuh kemenangan sepanjang hari...

Suatu saat Yesus panggilku 'tuk jadi pekerja,
MELAYANI, MENJADI SAKSI BAGINYA...

Bukan sembarang pekerja, ya ya ya
Allahku luar biasa, ya ya ya
Dialah Raja s'gala raja, ya ya ya
memanggilku menuai ladangNya

Hanya anugrah semata, ya ya ya
Aku dibasuh olehNya, ya ya ya
Sungguh sangat istimewa
Menjadi pekerja Kristus Yang Mulia...