Monday, May 21, 2012

Thank You for Loving Me - Bon Jovi

Pengen nyanyiin ini buat orang yang nanti jadi pacar gue... entah siapa :)






It's hard for me to say the things 
I want to say sometimes 
There's no one here but you and me 
And that broken old street light 
Lock the doors 
We'll leave the world outside 
All I've got to give to you 
Are these five words when I 

Chorus: 
Thank you for loving me 
For being my eyes 
When I couldn't see 
For parting my lips 
When I couldn't breathe 
Thank you for loving me 
Thank you for loving me 

I never knew I had a dream 
Until that dream was you 
When I look into your eyes 
The sky's a different blue 
Cross my heart 
I wear no disguise 
If I tried, you'd make believe 
That you believed my lies 

Chorus: 
Thank you for loving me 
For being my eyes 
When I couldn't see 
For parting my lips 
When I couldn't breathe 
Thank you for loving me 

You pick me up when I fall down 
You ring the bell before they count me out 
If I was drowning you would part the sea 
And risk your own life to rescue me 


Lock the doors 
We'll leave the world outside 
All I've got to give to you 
Are these five words when I 

Chorus: 
Thank you for loving me 
For being my eyes 
When I couldn't see 
You parted my lips 
When I couldn't breathe 
Thank you for loving me 

When I couldn't fly 
Oh, you gave me wings 
You parted my lips 
When I couldn't breathe 
Thank you for loving me 

Friday, April 27, 2012

Kamu

         Kamu datang ke kehidupanku dengan random. Ketika hatiku masih kosong dan diisi dengan lelaki-lelaki tampan dan manis yang hanya menjadi ajang 'perunyuan' dan bunga-bunga hati yang tak serius kujadikan pasangan hidup. Kamu datang ketika aku tak punya siapa-siapa dan sedang tidak mau punya siapa-siapa. Tiba-tiba kau mengirimkan pesan-pesan telepon pintar padaku dan pembicaraan-pembicaraan serta candamu membuatku sering tersenyum bahkan kadang tertawa. Aku dan kamupun jadi sering saling mengirimkan pesan dan akupun senang karena kita berdua, nyambung.
         Baru kamu yang membuat aku bisa tiba-tiba tertawa di tengah malam karena pertanyaan-pertanyaan konyol atau pernyataan-pernyataan menggelitik. Tapi kamu juga bisa berdiskusi hal-hal dewasa denganku. Baru kamu yang membuatku nyaman untuk berbagi cerita. Baru kamu, setelah dua tahun kesendirianku, yang membuat aku tetap terjaga hingga dini hari untuk mengobrol hal-hal yang sebenarnya kita tidak tahu arahnya ke mana, tapi mengalir saja.

Tapi aku belum sadar.
Aku hanya menganggapmu teman yang paling asyik yang saya punya. Kamu adalah adik yang paling seru untuk aku ajak bercanda, maupun berbincang tentang kehidupan.

Hingga kamu dekat dengan seseorang.
Ya, klise, aku tahu. Klise di mana kita baru sadar kalau kita menyayangi sesuatu ketika sesuatu itu direngkuh dari hadapan kita, atau sesuatu itu diambil oleh orang lain.
Melihat kamu bercanda dengannya, berdua, berjalan bersama, membuatku terpaut. "Mengapa kita tak bisa seperti itu?" ujarku dalam hati. Tapi kamu malah makin menjauh. Awkward. Tak ada lagi pesan-pesan telepon pintarmu, tak ada lagi senyumanmu yang lucu menyapaku.
Aku gundah, uring-uringan, sebal, kesal, segala asa berkecamuk di benak.

Untungnya itu tak berlangsung lama.
Akhirnya kamupun mengirimkan lagi pesan-pesanmu itu dan kitapun berbincang dan bercanda seperti biasa kembali. Akupun berusaha menahan segala pertanyaan mengapa kemarin-kemarin tak mengirimkan pesan padaku dan segalanya. Tapi aku tak ingin bertanya. Aku tak ingin kedekatan kita berkurang lagi seperti kemarin. Kita semakin dekat, dan kita semakin terbuka. Kita pun berbagi cerita tentang pujaan hati masing-masing dan segala macam. Aku terkadang sedih mendengar ceritamu tentang seseorang itu, tapi di sisi lain aku senang karena kita bisa kembali lagi seperti dahulu.

Sampai pada titik di mana aku bisa menerima bahwa aku masuk brozone.
Ya, zona di mana kita sudah dianggap sebagai saudara kandungnya yang tidak pernah ia punya, yang paling enak untuk dibagi cerita dan diminta nasehat bahkan lebih enak dibanding dengan saudara sendiri.


Tapi aku tidak mengerti, ada beberapa hal yang membuatku merasa kita tak seharusnya seperti ini. Maksudku, ketika aku sudah sampai pada titik di mana aku bisa menerima bahwa aku masuk 'zona kakak', kamu malah melakukan sesuatu yang membuatku makin menyadari bahwa aku, sayang sama kamu. Entah, tapi makin ke sini aku makin menyadari kalau perasaan yang ada di hati ini lebih dari sekedar perhatian biasa, lebih dari sekedar suka biasa, lebih dari sekedar....sayang.

      Perbincangan-perbincangan yang terjadi di antara kita, tawa canda serta wajah lucumu, lagu-lagu yang kamu berikan, film-film pendek yang kamu tunjukkan... semua itu sederhana. Kecil. Tapi bagiku sungguh berharga. Serius. Aku senang kita bisa seperti ini, sedekat ini...
Tapi aku bingung. Mau dibawa ke mana arah kita? Apa begini saja? Atau adakah yang lebih?
Apakah kamu punya perasaan yang sama terhadapku atau tidak?
Kalau ya, tolong jelaskan padaku, jangan kamu buat aku uring-uringan seperti ini.
Kalau tidak, ya sudah.

Tapi bagaimana aku bisa tahu ya atau tidaknya?
Aku bingung.
Mau dibawa ke mana perasaan hati kita aku ini?


               

Sunday, April 22, 2012

Grow a Day Older - Dewi Lestari


"... When I was in complete surrender of who I am, the helpless idiot venturing her endless lessons of love and life. When I was thankful that he would grow a day older and see what a mess I could be. And I can feel I am arriving in that moment again, right now, as I am cuddled like his Teddy, and still not knowing what to do or what to decide."


See the sunrise
Know it's time for us to pack up all the past
And find what truly lasts
If everything has been written down, so why worry, we say
It's you and me with a little left of sanity
If life is ever changing, so why worry, we say
It's still you and I with silly smile as we wave goodbye
And how will it be? Sometimes we just can't see
A neighbor, a lover, a joker
Or a friend you can count on forever?
How tragic, how happy, how sorry?
The sun's still up and life remains a mystery
So, would it be nice to sit back in silence?
Despite all the wisdom and the fantasies
Having you close to my heart as I say a little grace
I'm thankful for this moment cause
I know that you

Grow a day older and see how this sentimental fool can be
When she tires to write a birthday song
When she thinks so hard to make your day
When she's getting lost in all her thoughts
When she waits a whole day to say...
"I'm thankful for this moment cause I know that I
Grow a day older and see how this sentimental fool can be
When he ache his arms to hold me tight
When he picks up lines to make me laugh
Whan he's getting lost in all his calls
When we can't wait to say : "I love you'."

If everything has been written down, so why worry, we say
It's you and me with a little left of sanity


------------------------------------------------------------------------------------------------------------










And I just wanna said that I MISS YOU SO MUCH. 
I MISS US
I MISS OUR TOGETHERNESS
I MISS OUR LAUGH
and I just want you to know that i HEART you that much...



Monday, April 09, 2012

Amare

         Malam itu, aku tersadar bahwa aku menyayangi kamu lebih dari sekadar teman. Lebih dari sekadar sahabat yang kamu bagi cerita, canda, dan tawa. Lebih dari sekadar sahabat yang kamu bagi keluh, kesah, dan gulana.
Entah bagaimana dan karena apa, tiba-tiba dadaku sakit dan air mata menetes dari kedua bola mataku. Aku terkesiap. Kusesap air mata itu, namun ia terus menerus ke luar tanpa henti hingga aku tersedu-sedu. Entah moment-nya yang tepat atau memang Tuhan sudah menggariskan begitu, saat itu pesanku padamu pun tak berbalas. Hingga sekarang. Aku gundah, uring-uringan hingga tak tentu arah.
         Kembali pertanyaan 'mengapa' kulontarkan pada-Nya. Aku pernah bilang, jika rasa ini sudah membuatku sakit, hendaknya Kau hapuskanlah. Karena pada awalnya, perbincangan denganmu, pertemuan denganmu, pesan-pesanmu, membuatku selalu tersenyum dan tertawa. Maka jika ini sudah membuatku tak tersenyum dan tak tertawa, kiranya Tuhan hapuskan saja rasa ini.
         Tapi tidak. Ia yang punya kuasa tak menghapuskan rasa ini. Sudah beberapa hari aku gundah. Rindu tak tertahankan namun aku harus menahannya. Toh ia juga tak ingat padaku, buktinya, tak satu pesanpun darinya datang ke handphone-ku... Pikirku. Aku akan terus menunggu hingga ia yang beri kabar. Seperti yang lalu-lalu. Aku harus kuat. 
        Sudah dua tahun lebih aku tak pernah memiliki perasaan seperti ini lagi. Ternyata rasanya memendam asa dan angan itu.... masih sakit. Aku menyayanginya, mungkin Ia tidak tahu. Mungkin dirinya hanya menganggapku perempuan yang enak untuk diajak bicara, ngobrol, dan berbagi keluh kesah. Mungkin dirinya hanya menganggapku tak lebih dari teman, bahkan saudara. Akupun tak tahu rasa ini salah atau tidak, toh Ia sudah melewati 'ujian waktu'ku. Sekian bulan berbincang, dan aku merasa cocok. Entah dari pihaknya.... Ya sudahlah, aku hanya dapat berpasrah dan merelakan saja jika memang bukan ini jalannya. Yang pasti Ia adalah seseorang yang paling dapat membuat perasaanku campur aduk dan membuatku merasakan air mataku mengalir kembali karena masalah lelaki.
         Aku berpasrah, aku menyerahkan semua pada Ia Yang Empunya Kuasa, jika memang ini kehendakNya, maka terjadilah. Jika tidak, aku akan rela melepaskan. Ya, aku akan rela, lagi...

Untuk kamu, aku sayang kamu. Mungkin kamu cuma nganggap aku kakak, sahabat, teman yang enak untuk dijadikan tempat curhat, mungkin kamu cuma nganggap aku teman yang asyik untuk berbagi cerita. Aku juga baru sadar kok kalau aku kehilangan kamu waktu kamu gak hubungin aku, aku baru sadar kalau hariku hampa tanpa candaanmu. Aku baru sadar waktu kamu gak BBM aku dan aku jadi uring-uringan seharian tapi aku takut buat BBM kamu duluan karena aku malu... Aku baru sadar kalau aku.... sayang kamu. Sayang kamu lebih dari sekadar teman. Ya, mungkin aku terlalu jauh, aku terlalu kurang ajar, aku terlalu ekspektasi tinggi sama kamu.
Tapi jika kamu tidak memiliki perasaan yang sama denganku, aku ingin kita tetap seperti dulu. Bisa tertawa, bercanda, ngobrol sampai pagi dan seterusnya... Jangan sampai rasa ini menghalangi kedekatan kita sebagai keluarga. Aku masih ingin tertawa lepas sama kamu dan dengerin curhat-curhat kamu. Ya, mungkin rasa di hatiku ini memang pseudo, semu. Tapi aku tulus kok sayang sama kamu, kalau tulus kan berarti aku rela mengorbankan perasaanku sendiri demi perasaan kamu.

Pokoknya, kalau kamu baca tulisan ini dan kamu sadar kalau yang aku tulis di sini adalah kamu, setelah baca ini kamu jangan aneh ya. Kamu pura-pura aja gak baca tulisan ini di depan aku, kalau mau nanya sama aku, nanti aja nantiiii banget. Aku ga mau kita aneh, aku ga mau kita jadi awkward. Plisplisplisplis..... Aku cuman pengen curhat aja kok di blog aku. Ya pokoknya intinya kamu udah tau lah ya, kalau aku sayang kamu. Aku gak berani ngomong langsung sama kamu karena takut gimanaaa.. gitu jadinya.

Dan, oh ya...
BBM aku dong plis, aku kangen tapi aku malu bbm duluan -_________-
cerita apaaa aja sama aku plis :))



kiss kiss :* :*
-Tasha-






Saturday, April 07, 2012

Pseudo

Jika memang aku yang terlalu banyak berharap, maafkanlah.
Mungkin ekspektasi di kepalaku berlebihan.
Mungkin hasrat dalam raga ini memang hanya semu. Tak harus berlaku.
Mungkin aku hanya boleh diam membisu mendengarmu tanpa berkata,
membiarkanmu bercerita riang tentang dirinya.
Ah, semu.
Memilikimu hanyalah semu. Benarkah begitu? Tanyaku dalam hati.
Pada siapa kudapat bertanya? Pada siapa kuminta jawaban?
Ah, semu.
Bahkan mencari tanda dalam dirimu saja aku tak kuasa. Menebak-nebak tanda darimu saja aku tak berani.
Bodoh. Absurd. Aku.
Kamu? Semu.

Dapatkah kau membuatnya tak lagi semu?

Bila Tuhan Mengujimu - Franky Sihombing

Terkadang didalam hidupmu
Pencobaan berat menimpa
Menghancurkan hidupmu
Meremukkan hatimu
Namun ingatlah

Reff:
Dia Tuhan
Tak akan pernah memberi pencobaan
Dan ujian
Melebihi kekuatan yang kau punya
Hendaklah bersyukur
Dia melakukan semua kar'na cinta
Supaya kau beroleh hikmat
Dan jadi sempurna s'perti Dia

'Pa bila tuhan mengujimu
Kar'na Dia menyayangiMu
Laksana s'orang Bapa
Yang mendidik anakNya
Kar'na cintaNya 

Thursday, April 05, 2012

Bagaimana Jika

Bagaimana jika akhirnya saya menyadari kalau Anda yang sebenarnya saya inginkan jauh di dalam lubuk hati saya? Bukan yang itu, bukan yang ini, bukan pula yang saya ceritakan pada Anda.

Bagaimana jika akhirnya saya ingin Anda yang menempati hati saya, ada di sisi saya, dan jadi yang saya perhatikan setiap hari, buatkan masakan setiap hari, dan ucapkan kata-kata cinta setiap hari? Bukan yang itu, bukan yang ini, bukan pula yang saya ceritakan pada Anda.

Bagaimana jika akhirnya saya rindu pesan-pesan Blackberry Anda? Bukan pesan-pesan Blackberry-nya?

Bagaimana jika sebenarnya saya selalu tertawa ketika kau melontarkan kalimat-kalimat lucu, atau ekspresi menyenangkan yang membuat saya terbahak? Bukan senyuman manis misterius yang saya ceritakan pada Anda?

Bagaimana jika sebenarnya saya makin lama makin memiliki perasaan yang dalam terhadap Anda dibandingkan terhadapnya?

Bagaimana jika saya katakan bahwa akhirnya saya menyadari bahwa saya sayang Anda?

Apa yang akan Anda lakukan?

Bagaimana jika....

Ah!

Monday, April 02, 2012

Bagaimana Cara?

Sungguh ironi, ketika di dunia maya kita bisa saling terkoneksi
seleramu, seleraku, sama. 
Ketika obrolan mengalir dalam batas telepon pintar
Ketika aku tegang menunggu huruf 'D' berubah menjadi 'R'
dan menanti-nanti apa yang akan datang ketika '...is writing a message'

Aku, kamu, kita
Tak mengerti apa yang harus diperbuat selanjutnya
Jujur, aku malu menyapamu
kau pun juga
Maksudku, aku merasa kau pun juga malu menyapaku
tapi apa daya? lidahku kaku. Bahkan melirikmupun aku tak sanggup.

Tuhan, sampai kapan aku harus begini terus?
Sampai kapan kami harus begini terus?
Ingin kuteriakkan bahwaku menyukaimu
Aku suka senyummu
Aku suka lantunanmu
Aku suka ketika kau menyentuhkan jemarimu pada alat musikmu



Tapi bagaimana caranya?