Tuesday, September 22, 2015

Jatuh Cinta dalam Diam (Kisah Narendra-Banyu)


"Aku bingung, Banyu. Pola pikir perempuan tak pernah bisa kumengerti, bagian otak mana yang mereka pakai untuk berpikir, sih?" ujar Narendra sambil menghisap rokok dalam-dalam, dan menghembuskannya keras.

"Ah, itu karena kau sedang jatuh cinta saja, Narendra. Segala sesuatunya jadi rumit kalau sedang jatuh cinta. Dua insan jadi seperti tak punya logika," jawab Banyu santai sambil meraih rokok di tangan Narendra dan ikut menghisapnya.

"Ah, sudahlah..." ujar Narendra mengambil kembali rokoknya, lalu menghirup dalam-dalam.

Aku lebih suka begini, Banyu. Berdua denganmu dalam diam.
Persetan dengan persahabatan lelaki-perempuan yang seharusnya tak melibatkan perasaan.
Justru aku ingin menjadi sahabatmu karena aku memiliki perasaan terhadapmu.
Aku.... mencintaimu, Banyu.

Tapi toh aku pengecut, tetap saja kutanyakan dia tentang perempuan alih-alih aku ingin mendekati mereka. 

***

Kuambil rokok di tangan Narendra dan menghirupnya dalam, lalu menghembuskan asapnya pelan-pelan.
Ah, hembusan asap ini mengingatkanku pada perasaanku yang tumbuh padamu, Narendra. Pelan-pelan, pelan-pelan, kemudian baunya menempel. Sulit lepas.

Aku tahu ini salah, tak seharusnya jatuh cinta pada sahabat sendiri.
Jikalau kau tahu perasaanku, pasti kau akan marah. Pasti kau akan berteriak, "Mengapa kau mau begitu saja jadi sahabatku?" dan aku pasti hanya bisa terdiam.

***

"Cinta itu rumit," ujar Narendra dan Banyu bersamaan.
Mereka tersentak, saling pandang, lalu tergelak.
"Kita memang sehati, ya, Ren!" ujar Banyu sambil tersenyum lebar lalu memberanikan diri menaruh kepala di pundak Narendra. Lelaki itu hanya mengangguk lalu mengelus kepala Banyu.

Kemudian mereka terdiam dan sama-sama menarik napas panjang, menikmati momen ini.
Ah, memang sebaiknya begini saja dulu. Aku tak mau merusak persahabatan kami.
Ujar mereka dalam diam.

No comments: