What If

Dear God,

     Terimakasih atas segala yang telah Engkau berikan di hidupku selama satu tahun kemarin ketika umurku dua puluh. Banyak hal yang telah aku dapatkan dan telah aku lalui. Banyak hal berharga yang sudah aku rasakan selama satu tahun kemarin.
Di usiaku yang sudah kepala dua, aku merasakan banyak hal yang berubah dan berbeda. Salah satunya adalah emosiku dan kelabilan memasuki usia dewasa. Di satu sisi masih ingin seperti anak kecil yang bebas, lepas, tanpa beban, di satu sisi harus bersikap dewasa, bijak dalam menentukan segala hal, dan lainnya.
Dan aku masih belum bisa menentukan sikapku untuk masalah hati. Itu memang yang paling sulit.

     Kadang aku ingin bilang pada Mu, God, kalau memang kami seharusnya tak usah kenal dan tak harus bertemu, ya jangan dipertemukan saja. Ini gila, God, gila! Kami baru kenal dan perasaan itu muncul di dadaku. Perasaan konyol di mana sepertinya di dalam perutku ada kupu-kupu yang bergerak dan detak jantungku bertambah kencang hanya dengan melihat ujung rambutnya saja. Kami nyambung dan seru kalau ngobrol, ia seperti aku versi cowok. Seperti kembaranku. Entah sih, tapi menurutku, dia mirip sekali denganku. Aku seperti berkaca kalau melihat dia. Dan rasa itu tiba-tiba menyeruak. Aku ingin menolak tapi tak bisa. Aku ingin menghindar tapi tak dapat.

     Tuhan, mengapa kau berikan waktu yang begitu singkat untuk mengenalnya? Kini aku sudah jarang bertemu dia, berkomunikasipun tidak. Melihat wajahnya saja aku jarang. Memang pada awalnya aku bahkan tak pernah menyadari kalau dia itu ada. Tapi kini? Aku selalu teringat dengannya tapi aku tak pernah bertemu dan mengobrol dan bercanda dan segala macam dengan dia. Sungguh singkat. Sungguh sebentar.

Harusnya tidak usah bertemu, God!
Harusnya tidak usah kenal
Harusnya tidak usah kutahu kalau dia ada
Harusnya tidak usah

Harusnya tidak usah kalau akhirnya jadi begini. Sekarang, Ia mungkin sudah memiliki pujaan hatinya yang lain. Sekarang, Ia mungkin sudah lupa denganku. Sekarang, mungkin tidak terbersit sedikit pun di benaknya tentang aku. Sudahlah, aku memang terlalu banyak berharap, terlalu memiliki ekspektasi yang tinggi seperti yang sudah pernah kubahas sebelumnya.

     Bagaimana kalau seandainya kemarin kami tidak berkenalan? Bagaimana kalau memang seharusnya itu yang terjadi? Bagaimana kalau memang harusnya kami tidak usah bertemu? Bagaimana kalau momen itu tak pernah ada?
Mungkin aku akan lebih bersyukur kepadaMu karena aku tak perlu menambahkan daftar sakit hatiku.
Mungkin aku akan lebih bahagia hari ini dibanding sekarang, memikirkan dia yang tak memikirkanku.
Mungkin aku tak akan memikirkan dia sedang apa, di mana, sama siapa, sudah makan atau belum dan lainnya.

     Tapi kenapa, God?
Kenapa Kau membiarkan kami bertemu?
Kenapa Kau membiarkan kami saling kenal?


Harusnya tidak usah, God.
Harusnya tidak usah.....




                                                                                                     Your selfish daughter,
                                                                                                                       Natasha

Comments

Popular Posts