I Love You, Mere, Pere...

Jujur, waktu kecil saya benci banget sama mereka. Dulu, banyak banget hal-hal yang mereka lakukan dan menyakiti hati saya. Dari mulai pukulan kecil, pelemparan barang-barang, sabetan gagang kemoceng, pelemparan tubuh kecil saya ke tempat tidur, penguncian saya di kamar dan kamar mandi, hinaan-hinaan , hujatan, pengkerdilan yang saya dapatkan dari mereka, jujur itu membuat hati saya teriris. Ketika saya bercerita mengenai pengalaman saya di sekolah, mencoba untuk curhat tentang saya yang mulai naksir sama kakak kelas waktu masih kelas 3 SD, saya malah dimarahi, dinasehati panjang lebar. Jujur, itu membuat saya menjaga jarak sama kalian.

Tahukah kalian bahwa perbuatan kalian ketika saya kecil membawa luka batin di hati saya? Tahukah kalian ketika saya ingin curhat bahwa saya jatuh cinta pada pandangan pertama ketika SMP dan berlanjut hingga sekarang, 9 tahun, saya takut. Saya takut dimarahi kalian, takut diceramahi. Yang ada saya tambah tertekan nanti. Tahukah kalian, ketika kalian memaki saya dengan kata-kata kasar, saya sakit? Dulu saya masih kecil, tidak bisa melawan dengan kata-kata. Kini, ketika saya sudah dewasa, saya bisa menasihati kalian kalau saya ini manusia, anak mereka, tak pantas mendapatkan kata-kata kasar dari mulut orang, apalagi kalau itu orang tua sendiri?

Tahukah kalian jika dulu, semua orang mempertanyakan kenapa saya beda dari kalian? Kenapa saya punya kulit yang coklat dan mata yang belo dan besar, sedangkan kalian putih, tinggi dan sipit? Tahukah kalian ketika jalan sama kalian, dan kalian bertemu dengan teman lama kalian, saya bahkan sama sekali tidak dilirik oleh teman2 kalian? Mereka menganggap saya bukan anak kalian, tahukah kalian bahwa hati saya pedih?
Ketika saya bertanya, apakah saya ini bukan anak kalian, kalian hanya tertawa. Tahukah kalian bahwa saya saat bertanya, saya butuh pelukan, dan kecupan di kening, serta ucapan kalian yang meyakinkan bahwa 'It's Okay, biarpun mereka bilang kamu bukan anak kami, tapi kamu harus tahu kalau kami adalah orang tua kamu, dan kamu akan tetap di hati kami karena kami mencintaimu, karena kamu anak kami...' . TIDAK PERNAH. Kalian tidak pernah betul2 meyakinkan saya kalau saya ini anak kalian.
Tahukah kalian bahwa saat itu saya masih hanya anak kecil? Yang butuh diyakinkan kalau memang saya anak kalian? Tahukah kalian bahwa segala yang kalian lakukan terhadap saya itu terbawa hingga saat ini dan terus terngiang di kepala saya?

Sadarkah kalian, dulu, kalian tidak pernah memeluk saya, dan kini, semenjak umur 18, kalian selalu mencoba memeluk saya, saya merasa risih. Dulu, kalian tidak pernah mengelus kepala saya, dan kini kalian mencoba mengelus kepala saya ketika saya berhasil mendapat Beasiswa dari kampus, saya risih. Dan dulu, waktu saya mau curhat tentang gebetan-gebetan masa SD saya, kalian selalu memarahi saya, tidak pantas anak kecil suka-sukaan, kini kalian selalu mencoba mengorek perasaan saya dan menyuruh saya untuk bercerita tentang lelaki karena saya sudah umur 20 tahun. Tahukah kalian, bahwa kalian mengulangi lagi perbuatan kalian, ketika saya umur 18 dan saya mencintai seseorang, kalian begitu melarang saya untuk berhubungan dengan lelaki itu, saya sakit... Saya berpikir bahwa kalian tidak mengerti perasaan saya, tidak mengerti apa itu arti cinta. Tahukah kalian, sekarang, saya sulit untuk mencari pasangan karena apa? Saya takut, saya takut calon pasangan saya ditolak lagi oleh kalian dan jatuhnya saya selalu mengecewakan kalian.

Tahukah kalian, bahwa saya merasa selalu mengecewakan kalian? Saya memang kurang tekun belajar piano klasik, tetapi saya bisa bermain pop dan ketika saya bermain pertama kalinya di Gereja, semua orang memuji saya, kecuali kalian? Sungguh, saya haus pujian dari kalian, saya haus belaian dari kalian, pelukan, semangat... Dulu, harus saya yang mencium dan memeluk kalian, tidak pernah kalian duluan...
Tahukah kalian bahwa saya kecewa ketika awalnya kalian ragu saya terjun ke jurnalistik ketika SMP, saya kecewa dulu kalian melarang saya ikut OSIS dan Operet sekolah pada awalnya? Tapi saya berjuang, dan akhirnya kalian memperbolehkan saya dengan begitu banyak syarat. Tahukah kalian saya kecewa?

Tahukah kalian, bahwa ketika saya sudah mati2an latihan Teater dan latihan Paduan Suara di kampus, ketika saya bercerita bahwa saya sudah mendapatkan PERAN UTAMA ketika Paskah Kompas Gramedia tahun lalu, dan saya main di Hotel Santika, itu hal besar buat saya, tapi respon kalian hanya, 'awas IP kamu jelek' . Tahukah kalian saya sakit hati? Ketika Paduan Suara saya masuk Final 11 besar, kalian biasa-biasa saja, dan saya kecewa. Kenapa kalian ga ngerti saya dari kecil?

Mungkin kalian tidak sadar, ketika memukul, melempar saya dengan barang keras, memaki saya, itu menimbulkan luka batin yang sungguh di hati saya. Dan terbawa sampai sekarang, dan ketika kalian mencoba memperbaiki itu semua ketika saya dewasa, alam bawah sadar saya menolak. Ya, Belasan tahun kalian memperlakukan saya buruk, dan kini kalian seolah-olah dulu tidak pernah melakukannya?

Saya tahu kalian mencintai saya, kalian bekerja keras agar menyekolahkan saya dia SEKOLAH TERBAIK se Bogor selama 6 tahun, dan menguliahkan saya di kampus milik Kompas Gramedia karena kalian tahu cita-cita saya ingin jadi jurnalis. Saya tahu kalian mencintai saya, ketika saya butuh uang, walau saya tahu kalian susah mencarinya, kalian tetap memberi saya uang, bahkan kalau ada rejeki, suka dilebihkan. Saya tahu kalian sudah mulai berubah, itu pun karena saya suka mengirimkan SMS berisi kasih saya kepada kalian. Saya tahu kalian sudah mulai menunjukkan kalau kalian mencintai saya ketika kalian membalas SMS saya dengan kata2 'God bless you, anak mama papa' , 'I Love You'... Saya tahu bahwa kalian juga mencintai saya... Walaupun Papa sudah pensiunan dan Mama tidak kerja, kalian tetap berusaha memberi uang kepada saya tiap minggu walau kadang kalian hanya makan telur atau mie instan. Ya, saya sebenarnya kalian bisa beli makanan enak tapi kalian berpikir, buat apa, toh cuman berdua saja, lebih baik uangnya untuk dikirim ke Serpong. Saya tahu kalian punya tabungan untuk saya hingga saya lulus tahun depan.

Mungkin cara kalian dahulu yang salah, dulu kalian tidak pernah menunjukkan itu semua sehingga saya berpikir kalian tidak mencintai saya. Dan kini saya sadar bahwa kalian sangat mencintai saya, seperti saya yang selalu mencintai kalian dari kecil. Saya dulu butuh kasih sayang kalian, tapi kalian tidak pernah memberikannya, tidak pernah menunjukkan kasih itu pada saya.

Kini saya sudah dewasa, tahukah kalian bahwa dulu saya bekerja, hasilnya untuk uang kontrakan, itu karena saya tidak mau menyulitkan kalian secara finansial, dan waktu saya mendapat beasiswa, tahukah apa yang pertama ada di benak saya? Saya akan kasih uang itu untuk kalian. Dan kini saya mau bekerja dan mau coba apply beasiswa lagi, itu untuk kalian, tak pernah terpikirkan sedikitpun di benak saya bahwa uang itu untuk saya belanjakan, beli baju, sepatu, tas, TIDAK PERNAH. Yang ada di benak saya adalah untuk kalian, agar kalian dapat menikmati masa senja kalian dengan tenang. Tahukah kalian bahwa nanti jika saya kerja, saya akan berikan sebagian gaji saya untuk kalian? Tahukah kalian bahwa saya mencintai kalian, walaupun dari dulu orang mengira saya bukan anak kalian?
Jika memangpun saya bukan anak kandung kalian, saya tetap mencintai kalian dan selalu berterima kasih telah membuat saya sampai di titik ini.

Ketidak baikan sikap kalian membuat saya dewasa, kerasnya didikan kalian membuat saya mandiri, mungkin kalian tahu bahwa umur saya dan kalian berbeda jauh dari saya, dan mungkin kalian ingin mempersiapkan bahwa ketika kalian nanti tak ada, saya bisa berdiri sendiri di atas kaki saya. Saya hanya ingin bilang, bahwa apapun perbuatan kalian di masa lalu, saya mengampuni kalian, saya mencintai kalian, dari dulu. Mohon mengerti, mungkin saya seperti kalian, tidak bisa menunjukkan cinta saya dengan verbal, tapi lihat nanti, saya akan berusaha membahagiakan kalian berdua di masa senja kalian, saya berjanji. Kalian sudah memberi saya segini banyak, saya pun harus memberi kalian segitu banyak.

I love you, mother, father. Makasih bahwa pada akhirnya kalian mau menunjukkan cinta kalian dari SMS kalian. Saya senang kalian tidak pernah menelepon saya kalau saya lagi di Serpong, saya senang kalian tidak pernah rese SMS-SMS saya yang tidak penting (karena saya memang risih kalau ditelpon atau diSMS orang tua). Saya senang kalian tahu itu, mungkin cinta saya akan saya tunjukkan dengan pulang malam karena bekerja atau lembur di kantor, mungkin cinta saya akan saya tunjukkan dengan uang bulanan yang saya berikan kepada kalian. Tapi ketahuilah, saya melakukan itu atas nama cinta, walaupun dulu kalian telah menyakiti hati saya sedalam-dalamnya, tapi ya, saya mengampuni kalian, saya sayang sama kalian mau kalian orang tua kandung saya atau bukan. Saya akan berusaha sembuhkan penyakit kalian dengan membawa kalian ke dokter, nanti jika kalian sudah renta dan sakit-sakitan. Saya janji, itulah bentuk cinta saya. Mungkin saya tidak akan pernah berbicara ke kalian bahwa saya cinta kalian, tapi, saya cinta kalian.

Saya akan berusaha tidak merepotkan kalian, saya akan berusaha lepas dari kalian secara finansial ketika nanti sudah bekerja, biarlah kalian berbahagia berdua di masa senja. Tapi saya belum bisa janji akan memberikan kalian cucu cepat-cepat, karena masalah hati saya memang belum sembuh, saya masih belum bisa mencari calon suami yang tepat untuk saya. Maaf, tapi saya janji tanpa suami pun saya akan menjaga kalian. Maaf untuk yang ini saya belum bisa janji.
Hanya ini yang bisa kukatakan...

I love you both.
I love you guys deep deep down in my heart.





Best regards,
Your Only Daughter
.Lydia Natasha Hadiwinata.

Comments

Dogloverzz said…
<3 <3 <3 this one post..!
I bet you'll be a great journalist!!
Thx for sharing, Tas.. Really..
Love and pray for you always..
Gbu & fam :)

Popular Posts