Tuesday, December 15, 2009

Narendra Banyu

-cerita di bawah ini merupakan proyek cerpen gue dalam mata kuliah creative writing, dibuat dengan terburu-buru sehingga endingnya agak maksa. maklum aja ya guys, soalnya gw ga bisa nulis cerpen,,hohoo!


Senja itu, semburat jingga sudah menampakkan dirinya. Narendra masih terpaku di hadapan nisan itu. Tak terbayangkan olehnya semua yang telah Ia lalui.

Aku butuh kau, Bunda, aku butuh kau untuk melewati semua ini…

Setitik air mata menetes di pipi Narendra. Ia hapus titik itu. Sedetik kemudian, menetes lagi, Ia hapus lagi. Setetes lagi, secepat kilat Ia hapus lagi.

Aku bukan lelaki kacangan, aku lelaki kuat, aku tidak boleh menangis, apalagi di hadapan nisan Bunda. Aku tidak mau menangis, setitikpun harus kuhapus dari mataku!

Tapi alam seakan tak bersahabat dengan nurani Narendra, angin semilir dan ilalang yang menari seirama sang bayu menambah kepedihan, air mata itu terus menetes walaupun Narendra terus menghapusnya. Akhirnya Ia tak tahan, isak tangispun keluar, bahkan menjadi gerungan setelah berkali-kali ia mengisak. Gerungan tangis seorang lelaki 20 tahun, kehilangan sosok Ibu sejak kecil, dengan Ayah yang tak peduli akan dirinya, dan segudang polemik yang menghampiri dirinya, serta ganja yang tidak habis-habisnya Ia hisap dan obat-obatan yang tidak pernah bisa berhenti Ia gunakan.

”Narendra, sudah kubuatkan gado-gado untukmu dan kutaruh di meja makan...” suara itu mengagetkan Narendra yang sedang berkutat dengan cerita untuk kelas creative writingnya di sofa empuk di ruang tamu. Banyu, sahabat yang selama ini mendampingi Narendra dalam kelamnya hidup lelaki itu. Pura-pura santai, ia menjawab,

”Lalu?”

”Lalu?” tanya suara itu, kebingungan,

”Iya, lalu kenapa kalau sudah kaubuatkan gado-gado?” Narendra menjawab sambil terus menatap layar komputer jinjingnya.

”Aku mau kau menyantap gado-gado yang sudah susah payah kubuatkan untukmu. Aku buat dari tadi pagi Narendra, kau harus hargai itu!” ujar Banyu sambil mengetuk kepala Narendra lalu duduk di sebelahnya dan menyalakan rokok Marlboro. Tak lama kemudian, ia sudah berselonjor sambil menaruh dagunya di pundak Narendra.

”Tugas Pak Masri ya, Narendra?” tanyanya sambil menghembuskan asap rokok ke wajah Narendra, membuat Narendra sontak terbatuk.

”Ah!! Apa-apaan sih kau? Ide yang sudah ada di kepalaku jadi terlontar lagi gara-gara asap rokokmu yang baunya setengah-setengah itu! Merokok sih Marlboro, ganja sekalian! Biar mantap! Fly… terbang ke awan, ke angkasa!” Narendra berdiri dan menarik tangan Banyu sambil menari-nari membuat Banyu terkesiap, dan ikut menari-nari juga. Tiada alunan musik menyertai, yang ada hanya musik yang ke luar dari hati mereka. Musik hati. Musik yang membuat Banyu menikmati tarian aneh mereka berdua.

”Kamu gila banget sih Narendra! Ganja? Aku bisa mati kalau ikut gaya hidupmu yang aneh itu!” Banyu mengetuk pelan dahi Narendra sambil masih menari-nari. Tarian yang aneh. Tarian yang absurd, keluar dari dua jiwa insan muda yang galau. Marlboro masih dihisapnya sambil menari.

”Sudah Banyu! Aku capek menari-nari seperti ini! Aku masih harus mengerjakan tugas Pak Masri, ide sudah berkelebat di otakku, melihat kamu menikmati tarian absurd ini. Aku ingin menulis sekarang juga! Pergi kau sana Banyu!” Narendra melepaskan tangannya dari tangan Banyu dan langsung duduk lagi menghadap laptopnya.

Banyu terhenyak, memperhatikan Narendra dalam diam, lalu terisak, ”Lalu, gado-gadoku bagaimana? Aku ingin kau menyantapnya Narendra…”

”Akan kusantap gado-gadomu kalau kau sudah mengganti Marlboro-mu dengan ganja.” Ujar Narendra pelan. Banyu berdiri terdiam. Hanya suara ketikan jemari Narendra

yang terdengar di ruang kecil itu.

Narenda Karna.

Banyu menggoreskan nama itu dengan spidol merah muda di catatan hariannya. Dihiasinya catatan harian itu dengan gambar hati kecil-kecil, dan diwarnai merah muda juga, tepat di samping tulisan Narendra Karna.

Aku seperti anak kecil yang sedang jatuh cinta pada idola di televisi… ah Narendra, kau membuatku gila…

”Akan kusantap gado-gadomu kalau kau sudah mengganti Marlboro-mu dengan ganja.”

Kata-kata itu terngiang di telinga Banyu.

Narendra Karna, kau adalah ganja bagiku, untuk apa kuganti rokokku?

Banyu sakit melihat Narendra sakit, Banyu pedih melihat Narendra pedih. Banyu tak pernah tahan melihat kesakitan Narendra ketika datang masa sakaunya. Ia selalu menangis ketika Narendra menahan pedih yang sepertinya tak dapat usai itu.

Banyu juga gembira melihat Narendra gembira. Narendra sangat suka gado-gado, dan Banyu belajar membuat gado-gado hanya untuk Narendra. Ia tidak suka memasak, tapi demi melihat senyum Narenda ketika menyantap gado-gado, Ia berusaha mati-matian. Ya, hanya untuk melihat senyum Narendra terkembang di bibir lelaki itu, Ia rela melakukan sesuatu yang tidak Ia suka.

Ah Narendra, aku positif sakit jiwa kronis kalau menyangkut kamu…

Ingin sekali Banyu melihat Narendra sembuh dari ketergantungannya, berkali-kali Ia menasihati Narendra tapi ditepisnya kata-kata yang keluar dari mulut Banyu. Narendra selalu menuduh Banyu tidak tahu bagaimana rasa menjadi dirinya, menuduh Banyu asal bicara, dan malah menyuruh Banyu mengisap ganja.

Kamu memang keras kepala, Narendra… Bagaimana lagi caranya untuk membuatmu mendengarkan kata-kataku?

Berhentilah Narendra, aku mohon.

Jangan sakiti dirimu sendiri

Jangan bawa dirimu ke neraka dunia

Demi kebahagiaanmu,

Aku mohon…

Ah, Banyu Lembayung Jingga, mengapa selalu mengusik hidupku? Aku tak pantas untuk diusik…

Sebuah SMS masuk ke telepon genggam Narendra. Isinya berinti sama, Banyu Lembayung Jingga ingin membuatnya berhenti dan lepas dari ketergantungannya pada benda-benda yang membuatnya membumbung ke nirwana, tanpa perlu kuatir akan dilema dunia. Sudah beratus-ratus kali Banyu mengirimkan SMS seperti ini, bahkan sejak awal Narendra mengenal barang-barang haram itu.

Neraka dunia? Ganja, narkoba, jarum suntik, Banyu sebut sebagai neraka dunia, tapi Narenda menganggapnya surga, surga bagi dirinya, surga yang bisa membuatnya tersenyum, merasa bahagia, walau untuk sesaat.

Setelah kepergian Bunda dan minggatnya Ayah dari tanggung jawab akan keluarganya, Narendra tidak memiliki teman yang mengertinya luar dalam. Sosok Banyu hanyalah sosok yang menambah penat kepalanya. Ia bertemu Banyu lebih lama dari ganja, narkoba dan jarum suntik. Ia kenal Banyu sejak kecil. Tapi Banyu tidak pernah mengerti kegalauan hidup Narendra.

”Aku hanya tidak ingin kau mati sia-sia, Narendra!” ujar Banyu suatu hari

”Aku yang mati, bukan kamu!” jawab Narendra

”Memang kamu yang mati, apa kamu mau mati?”

”Setidaknya mati lebih baik daripada hidup di dunia menyebalkan ini!”

Narendra melihat Banyu terhenyak. Mata Banyu berkaca-kaca… air mata seperti mau tumpah tapi ditahan oleh wanita itu. Narendra terdiam dan bertanya dalam hati, apakah kata-katanya menyakitkan Banyu.

Untuk apa dia sakit? Aku yang pergi dari dunia ini, mengapa harus dia yang sedih?

Berhentilah mengusikku, Banyu, aku mohon.

Jangan sakiti dirimu sendiri

Jangan bawa dirimu ke nerakaku

Demi kebahagiaanmu,

Aku mohon…

Senja, di kediaman Narendra. Sambil menyantap gado-gado yang dimasak Banyu, Narendra menonton DVD He’s Just Not That Into You di samping Banyu di ruang keluarga rumah itu. Setelah menghabiskan gado-gado dan meneguk teh botol yang dibeli di warung sebelah, Narendra menatap Banyu yang sedang asik menyaksikan aktor kesayangannya.

”Tak bosankah kau mengirimiku SMS seperti itu selalu?” tanyanya pada Banyu yang tak mengalihkan pandangan pada layar televisinya.

”Aku tak akan pernah bosan sampai kau berhenti lepas dengan barang-barang jahanam itu”

”Cobalah sampai seumur hidupmu, sampai kau mati!” ujar Narendra sambil menyalakan ganjanya.

Banyu berdiri seketika, dan berteriak di depan Narendra dengan wajah memerah kesal.

”Mengapa kata mati kau ucapkan begitu santai?? Aku tak mengerti pikiranmu!”

”Karena aku sudah mati sekarang!!” Narendra berteriak juga, darahnya seketika mendidih mendengar Banyu berkata Ia tak mengerti pikirannya.

”Belum! Kamu belum mati! Kamu masih hidup! Kamu masih hidup!! Lihat! Kamu masih bernapas sampai saat ini? Siapa bilang kamu mati? Kamu justru akan mati kalau kau terus bergantung pada barang-barang jahanam ini!!!!” Banyu menyambar ganja yang sedang dihisap Narendra dan melemparkannya ke lantai serta menginjak-injaknya. Rokok itu hancur, sehancur hati Banyu ketika Narendra berkata dirinya sudah mati, tak terasa air mata menitik di pipinya, makin lama makin deras, makin lama makin membuat gerungan, gerungan yang menyayat hati Narendra…

”Untuk apa kau menangis Banyu?? Tak ada yang perlu ditangisi! Toh aku yang mati, toh aku yang sakit! Mengapa? Mengapa kau begitu peduli akan hidup dan matiku! Kau bukan Tuhan

kan? Kau tidak berhak menyuruh aku berhenti dari surgaku!!”

”Kau sahabatku dari kecil Narendra, aku harus peduli padamu! Aku tak mau kau kenapa-napa! Aku ingin kau bisa melanjutkan hidupmu, sampai kau bisa menjadi pelukis terkenal seperti Bundamu!” teriak Banyu.

”Jangan bawa-bawa Bundaku! Jiwaku mati sejak Bunda tak ada! Aku sudah tidak bisa melanjutkan hidup! Pergilah Banyu! Lanjutkan hidupmu! Jangan urusi aku! Aku sudah tak layak hidup!” Narendra menyulut rokok ganjanya lagi. Banyu menarik tangan Narendra sehingga rokoknya terjatuh. Narendra memungut rokok tersebut, ditepisnya lagi tangan Narendra oleh Banyu sehingga rokok itu jatuh lagi. Darah Narendra seketika mendidih,

”Maksudmu apa Banyu? Urus saja hidupmu sendiri! Aku tak butuh orang yang menyusahkan seperti engkau! Pergilah! Dengan begitu kau tak usah repot belajar masak dan membuatkan gado-gado untukku lagi! Kau tak perlu menghabiskan pulsamu hanya untuk sesuatu yang tak akan aku dengarkan! Pergilah Banyu! Aku tak butuh kau!!!” teriak Narendra.

Banyu kaget mendengar perkataan Narendra, dengan air mata masih mengalir dan tak berkata apa-apa, Ia langsung lari ke luar, tak dilihatnya sebuah truk di seberang jalan, ia terus saja berlari… truk itupun menabraknya, membuat Banyu tergeletak di jalan dengan darah menggenang, dan nyawanyapun melayang…

Narendra hanya bisa terdiam. Dan menangis. Menyesali semua perbuatannya…

Senja itu, semburat jingga sudah menampakkan dirinya. Narendra masih terpaku di hadapan nisan itu. Tak terbayangkan olehnya semua yang telah Ia lalui.

Aku butuh kau, Bunda, aku butuh kau untuk melewati semua ini…

Setitik air mata menetes di pipi Narendra. Ia hapus titik itu. Sedetik kemudian, menetes lagi, Ia hapus lagi. Setetes lagi, secepat kilat Ia hapus lagi.

Aku bukan lelaki kacangan, aku lelaki kuat, aku tidak boleh menangis, apalagi di hadapan nisan Bunda. Aku tidak mau menangis, setitikpun harus kuhapus dari mataku!

Dan Narendra Karna akan terus hidup untuk Bunda dan Banyu…

No comments: