Thursday, April 14, 2016

Apa Kabar Idealismemu?

Bercita-cita menjadi jurnalis sejak kecil, tentu saya punya idealisme sendiri. Ditambah, berkuliah di jurusan jurnalistik juga membuat saya makin mengerti bagaimana seharusnya jurnalistik itu dijalankan, dan apa jurnalisme itu.

Cita-cita saya pun lebih spesifiknya ada 3, yaitu menjadi jurnalis investigasi, jurnalis perang, dan jurnalis lifestyle. Masa-masa SMA dan kuliah membuat saya jatuh cinta pada indepth dan investigative journalism. Namun sejak SMP hingga kini, saya gemar membaca majalah fashion, memadu-padankan baju, dan kini saya sadar bahwa saya cinta sekali dengan dunia beauty.


Sayangnya, kini saya tidak berada di cita-cita saya tersebut. Menjadi jurnalis lifestyle memang, tapi gaya hidup ibu-ibu. Alias dunia parenting. Which is, bukan saya banget. Saya belum pernah menikah (partner pun belum punya. ya, nggak usah dibahas. Haha), hamil, melahirkan, menyusui, apalagi mengurus anak. Jadi saya belajar keras untuk survive di sini. Memang saya suka dengan dunia kesehatan, tapi ini kesehatannya hanya kesehatan balita dan ibu hamil. Sangat niche. Syahdan, saya iri dengan teman-teman yang satu-satu mulai masuk Jakarta Post, Jakarta Globe, Harian Kompas, bahkan TEMPO. TEMPO! Impian saya! Hiks.

Saya kerap mengeluh saat harus men-transkrip interview dengan dokter anak, pun kerap menangis jika saya merasa deadline terlalu mepet namun mood menulis tak kunjung tiba. Saat meeting redaksi, tak jarang saya sulit menemukan ide. Buntu. Mentok.

Lalu suatu hari, saya menonton SPOTLIGHT. Keinginan untuk menjadi jurnalis investigasi kembali menyeruak. Mereka pakai hati sekali ketika mengerjakan pekerjaan mereka. They doin the research, chasing the source, and never give up.
And bam! Something came to my mind.


Pakai hati.

Ya, jurnalis-jurnalis itu bekerja dengan hati.
Terkadang saya teriak pada diri sendiri, "Di mana idealismemu ketika kuliah dulu?". Di mana yang katanya harus verifikasi hingga detil? Di mana yang katanya nggak boleh lelah kejar narasumber sampai dapat? Di mana yang katanya kamu harus baca berderet jurnal untuk menulis segala sesuatu? Di manaaa?
Kemudian saya tertegun.

Ini bukan dunia saya. Jujur, saya tak pernah terpikir untuk menjadi jurnalis di bidang parenting. Tidak pernah. Tapi, di sinilah saya sekarang berada. Saya harus berkompromi dan berkomitmen akan itu. Karena ini pilihan saya. Dulu ketika masuk, saya berkata pada diri saya, "Why don't you try daring yourself?" and yes, here I am.

Namun mengeluh pun tiada guna, bukan? Apalagi yang bisa saya lakukan selain do the best? Jadi ya seperti biasa, saya harus menerapkan ilmu legowo. Ikhlas. Jalani. Ketika rasa penat datang, ambil napas, tahan sebentar, lalu lepaskan. Hilangkan. Refresh. Dan coba cari semangat baru. Kalau bukan saya yang meng-encourage diri saya, siapa lagi?



Apa kabar idealisme?
Ya mau tak mau, lakukan seideal mungkin. Semaksimal dan sesempurna yang saya bisa. Toh melakukan sesuatu sebaik-baiknya tentu tidak akan mendatangkan hal buruk, bukan?

Terkadang Tuhan menempatkan kita di suatu tempat yang tidak nyaman buat kita, untuk menunjukkan bahwa Dia masih punya segudang berkat dan karunia yang bisa dicurahkan, meski kamu merasa kamu ada di tempat yang sangat buruk atau di titik terendah.

*semoga cawan ini cepat berlalu dariku....
:p


Love,
-Natasha-


2 comments:

Bene Krisna said...

Semangat tas! deep down in my heart, lu masih kakak kelas kampus kece kok buat gw! :D

Natasha Hadiwinata said...

KRISNAAAAA duuuh lo sekarang lebih ketje kaliii :")